Pentingnya Edukasi Tentang Kesehatan Reproduksi

 

Kesehatan reproduksi adalah keadaan fisik yang lengkap, mental dan kesejahteraan sosial dan bukan hanya karena tidak adanya kelemahan atau penyakit, tetapi mencakup semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi reproduksi dan proses reproduksi.

Data dari Unicef tahun 2013, masih terdapat banyak anak gadis atau lebih tepatnya anak-anak perempuan yang menikah sebelum mencapai umur 18 tahun. Prevalensi tersebut di tentukan berdasarkan pada prosentase perempuan berumur 20-24 tahun yang sudah menikah sebelum mereka berumur 18 tahun.

Hampir sepertiga dari anak-anak perempuan yang menikah di bawah umur tersebut berasal dari Asia Selatan dan 1 dari 3 anak-anak perempuan tersebut berasal dari India.

Bagaimana dengan di Indonesia ?

Ternyata di Indonesia masih banyak terjadi pernikahan usia dini. Provinsi di Indonesia dengan persentase perkawinan dini [usia 15-19 th] tertinggi adalah :

  1. Kalimantan Tengah 52.1%
  2. Jawa Barat 50.2%

  3. Kalimantan Selatan 48.4%

  4. Bangka Belitung 47.9%

  5. Sulawesi Tengah 46.3%

Meskipun demikian, secara global, data dari Unicef pada tahun 2013  mengatakan bahwa di Indonesia, risiko terjadinya pernikahan sebelum umur 18 tahun sudah berkurang hampir separuhnya jika di bandingkan dengan 3 dekade yang lalu.

Di harapkan, pada tahun 2050, pernikahan usia dini [sebelum usia 18 tahun] di Indonesia dapat berkurang hingga mencapai 4% sehingga bisa menekan angka kepadatan penduduk.

Lalu, apa sih penyebab anak-anak menikah sangat dini, bahkan sebelum mereka berusia 15 tahun ?

Beberapa alasan sbb :

1. Tingkat kemiskinan yang tinggi

Dampak kemiskinan terhadap pernikahan di bawah umur adalah bahwa, anak-anak perempuan yang hidup dalam keluarga miskin, hampir 2x lipat menikah sebelum berumur 18 tahun apabila di bandingkan dengan anak-anak perempuan dari keluarga dengan pendapatan keluarga yang lebih tinggi. Tingkat konsumerisne yang tinggi pada anak-anak atau remaja juga mempengaruhi.

2. Tingkat pendidikan yang rendah

Anak-anak perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi lebih sedikit yang menikah saat masih di bawah umur. Mendidik remaja perempuan menjadi faktor penting dalam meningkatkan usia perkawinan [supaya tidak menikah di bawah umur] di sejumlah negara berkembang termasuk di Indonesia.

3. Seks bebas pada remaja atau hamil sebelum menikah

Seks bebas pada remaja menimbulkan risiko kehamilan di luar rencana. Apabila sudah terjadi risiko maka mau tidak mau, pasangan remaja tersebut harus di nikahkan.

4. Pernikahan yang di atur oleh orang tua.

Beberapa akibat yang timbul dari terjadinya pernikahan usia dini atau atau sebelum usia dewasa adalah :

1. Kesehatan Ibu dan Bayi yang berisiko 

  •  Risiko kematian. Kehamilan merupakan faktor yang paling banyak menyebabkan kematian bagi anak-anak umur 15-19 tahun di seluruh dunia. Anak-anak perempuan yang menikah sebelum dewasa menghadapi risiko yang lebih besar untuk tertular HIV karena mereka seringkali menikahi laki-laki yang lebih dewasa dan lebih matang dengan pengalaman seksual yang lebih banyak daripada mereka.

Anak-anak perempuan ini juga kurang menerima perawatan medis selama kehamilan di bandingkan dengan wanita yang menikah di usia dewasa. Bisa jadi karena faktor ketidak tahuan akibat pendidikan mereka yang rendah.

  •  Risiko kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir rendah.
  •  Risiko perdarahan saat persalinan yang bisa meningkatkan risiko kematian bagi ibu dan bayi.

  • 2. Kekerasan Dalam Rumah Tangga {KDRT}

    Anak-anak perempuan yang menikah sebelum umur 18 tahun juga berisiko menghadapi kekerasan dalam rumah tangga di bandingkan dengan anak perempuan yang menikah setelah berumur 18 tahun. Mereka seringkali mengalami tanda-tanda dan gejala kekerasan seksual dan stress akibat trauma  seperti tidak adanya harapan, merasa tidak tertolong dan depresi berat.

    Definisi depresi 

    Depresi ringan : 2-4 gejala timbul dari 9 gejala berikut dengan setidaknya dari no 1 atau no 2

    Depresi berat : 5 gejala timbul dari 9 gejala berikut, dengan setidaknya dari no 1 atau no 2

    1. Tertekan
    2. Kurangnya minat atau kesenangan dalam segala hal atau hampir tidak berminat pada semua kegiatan
    3. Turunnya berat badan yang signifikan walaupun tidak sedang diet.
    4. Insomnia or hipersomnia
    5. Keadaan mental yang bergejolak dan naik turun atau tidak stabil, atau malah terhambat sama sekali
    6. Kelelahan dan kehilangan energi
    7. Merasa tidak berharga atau merasa bersalah yang berlebihan atau tidak pada tempatnya
    8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi dan sering ragu dalam pengambilan keputusan
    9. Berulangnya pikiran tentang kematian, keinginan bunuh diri atau usaha untuk bunuh diri.

    Depresi bagi perempuan bisa meningkatkan timbulnya faktor-faktor penyakit kronis seperti diabetes, keinginan merokok, ketergantungan terhadap alkohol dan juga obesitas.

    Ibu yang menderita depresi akan meningkatkan risiko terhadap kesehatan bayinya sehingga bayi tersebut lebih sering sakit dan keluar masuk rumah sakit di bandingkan dengan ibu-ibu yang tidak menderita depresi.

    Dengan kata lain, ibu-ibu yang menderita depresi akan menghasilkan keturunan atau generasi bangsa yang tidak sehat.

    3. Tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    Tentu saja anak perempuan yang menikah dini dan bahkan hamil sebelum lulus sekolah mau tidak mau harus mau di drop out. Karena begitulah undang-undang dalam pendidikan di negara kita.

    Bukan bermaksud rasis dan membedakan gender serta pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi, memang sangat beralasan mengapa  para anak gadis dan perempuan pada umumnya harus bisa mengenyam pendidikan yang tinggi.

    Pentingnya edukasi dan pendidikan bagi perempuan  :

    • Dengan mempunyai tingkat pendidikan dan pengetahuan yang lebih tinggi, perempuan bisa berpikir lebih luas dan cerdas. Mereka bisa memilih karir yang sesuai dengan bidang mereka dan juga bisa memilih pasangan hidup dengan lebih baik. Dengan demikian tingkat depresi setelah pernikahan di harapkan akan lebih rendah atau tidak ada.
  • Perempuan yang cerdas biasanya juga kreatif. Seandainya sebelum menikah mereka adalah wanita karir, dan setelah menikah menjadi ibu rumah tangga, mereka tetap bisa mengeksplore kemampuan mereka sehingga bisa mendapatkan sumber-sumber penghasilan yang bisa di lakukan dari rumah. Dengan demikian, anak-anak tetap mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orang tua terutama ibunya.

  • Hasilnya ? Generasi dan keturunan kita akan menjadi generasi yang berbahagia.

    • Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, perempuan bisa berpikir dewasa dan menganalisa tentang berbagai risiko yang mungkin akan timbul apabila dia menikah dini. Dengan demikian mereka bisa memutuskan untuk menikah dalam usia yang sudah matang dan dewasa.
  • Bisa mendidik dan mengurus anak-anak dan keluarganya dengan lebih baik. Mengetahui makanan yang lebih sehat dan menghindari makanan yang tidak sehat untuk keluarganya sehingga kesehatan semua anggota keluarganya terjaga.

  • Peran keluarga dalam hal  kesehatan reproduksi :

    •  Mengenalkan akan-anak tentang kesehatan reproduksi sejak dini termasuk di antaranya tentang penularan penyakit HIV, dan risiko seks bebas.
    • Mengajarkan risiko dan tanggung jawab kepada anak untuk menghindari seks pra nikah dan seks bebas.

      Mengapa?

      Seks pra nikah bisa menjadi faktor seorang anak menikah sebelum dewasa. Belum siap bertanggung jawab secara mental dan finansial tetapi terpaksa harus bertanggung jawab karena dia akan segera menjadi orang tua.

      Hal demikian bisa menyebabkan timbulnya depresi, timbulnya keinginan untuk aborsi dan menyebabkan risiko tingkat perceraian yang tinggi.

    • Mengajari anak untuk bisa berkata ‘tidak’

      Sebagai orang tua, tentu kita tidak bisa mengawal atau membuntuti anak kita setiap hari dalam kegiatan dan aktifitas mereka sehari-hari. Saat anak-anak sudah memasuki usia puber, organ -organ reproduksi telah siap dan matang, secara naluriah mereka akan lebih menarik dan tertarik bagi lawan jenis. Pengenalan dan pertemanan yang kemudian mengarah kepada pacaran serta kemungkinan hubungan seksual yang tidak sehat, menurut saya, karena anak-anak terbiasa sungkan untuk bisa berkata ‘tidak’.

      Padahal sangat banyak manfaat apabila kita mengajarkan ketegasan kepada anak-anak, contohnya :

      [+]  Anak-anak yang menjadi korban penculikan, kemungkinan tidak atau belum di ajari orang tuanya untuk berkata tidak saat menerima ajakan atau menerima sesuatu barang dari orang asing yang tidak mereka kenal.

      [+] Seks pra nikah, terjadi karena salah satu pihak tidak bisa berkata ‘tidak’

    Mengajari anak untuk lebih terbuka dan komunikatif dengan orang tua. Data dari Kementrian Kesehatan di bawah ini dalam hal kesehatan reproduksi, anak-anak cenderung untuk menanyakan perihal reproduksi dan hal-hal tentang seksualitas kepada sesama teman dari pada bertanya kepada orang tua sendiri.

    Bukankah sama dengan orang buta yang bertanya arah jalan kepada orang buta ? Bisa kita bayangkan ?

    Seandainya anak-anak ‘dekat’ dengan orang tua sedari kecil baik secara mental maupun fisik, mereka pasti tidak akan sungkan untuk menanyakan hal-hal tentang kesehatan reproduksi dan seksual serta hal-hal lain yang ingin mereka ketahui kepada orang tua.

    Biasanya yang terjadi adalah, ayah dan ibu sibuk bekerja sehingga anak tidak mempunyai tempat curhat yang bisa di percaya.

    Memberikan perasaan dan lingkungan yang nyaman dan terlindungi kepada anak sehingga anak tidak perlu mencari rasa aman di tempat lain.

    Mengajarkan kepada anak bahwa menikah dan berkeluarga membutuhkan biaya yang besar dan tidak bisa di bayar hanya dengan ‘cinta’. Saat seseorang berkomitmen dan memutuskan untuk berkeluarga maka dia harus siap untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarganya. Seperti biaya pembelian rumah, biaya rumah sakit, biaya listrik, biaya air, biaya sekolah anak dll.
    Cinta adalah perasaan sementara dan cinta harus di biayai dengan tanggung jawab penuh. Tidak bisa di kredit dan tidak bisa di cicil.

    Menurut saya, perkembangan reproduksi dan perkembangan mental pada anak remaja seringkali memang tidak klop waktunya. Seringkali mereka mengalami masa pubertas atau kematangan organ-organ reproduksi terlebih dahulu. Sementara mental dan pikiran mereka masih mental anak-anak.

    Anak-anak perempuan yang menikah sebelum waktunya atau sebelum mereka dewasa, bukan hanya merenggut masa kanak-kanak mereka tetapi juga berisiko bahwa mereka bisa terkucil dari masyarakat, putus hubungan dengan orang tua, teman-teman mereka dan sumber-sumber lain yang bisa mendukung mereka. Mereka juga hampir tidak mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak,  apalagi pekerjaan.

    Di sisi lain, ibu-ibu muda yang memang masih berumur sangat muda tersebut berkemungkinan lebih besar untuk melahirkan anak-anak yang lebih banyak. Mereka harus mengurus lebih banyak anak di usia mereka yang masih sangat muda.

    Seperti roda yang selalu berputar, antara kemiskinan, pendidikan yang rendah, akan menghasilkan keturunan dan generasi yang juga akan mengulangi hal yang sama dengan yang di lakukan orang tua mereka. It’s a pattern of life.

    Mari bersama-sama kita mengubah pola hidup yang sudah ada menjadi pola hidup generasi yang lebih baik lagi untuk Indonesia yang lebih hebat.

    Sumber : Unicef – WHO – Kementrian Kesehatan RI – BKKBN

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s