Sharing :: Mengapa hanya boleh mempunyai 1 KTP-el ::



Ternyata pak Jokowi gak gampang di apusi,,,maap ya Pak, ini adalah pujian lo..
Kalau begini, ngapain kemaren itu saya bayar calo mahal-mahal kalau ternyata ktp nya gak boleh/bisa di cetak.
Ceritanya begini, kami suami-istri asli orang Semarang tentu saja KTP, KK dan kelengkapan surat2 semua berdomisili Semarang.
Nah,  4 tahun yang lalu suami hijrah dari Semarang ke Palangkaraya dan  2 tahun kemudian saya menyusul. Jadi suami saya sudah 4 tahun dan saya baru 2 tahun tinggal di Palangkaraya, Kalteng.
Sebagai warga negara yang baik, kami ingin tertib administrasi dong. Jadi beberapa waktu lalu saya pergi ke Kelurahan dan kemudian ke Dukcapil Palangkaraya untuk menanyakan cara pengajuan pembuatan KTP. Karena saya sudah memiliki KTP-el jadi tidak bisa untuk membuat KTP lagi, harus cabut berkas yang di Semarang baru kemudian di laporkan untuk di buatkan yang baru di Palangkaraya.
Nah permasalahannya, kalau cabut berkas kan harus ada orang tuh yang mau bersusah payah buat kita datang ke Dukcapil Semarang buat cabut berkas-berkas kita. Di tambah lagi, ada motor yang atas nama saya dan tentu saja menggunakan KTP Semarang sewaktu membeli dulu. Tentu saja harus ikut mutasi juga kan.
Berhubung kita mikirnya waduh kok ribet banget ya, apa gak bisa kita buat baru dokumen di sini tanpa cabut berkas? Demikian pemikiran kami, mikir yang gampang dan simple tapi ternyata keblinger hahaha
Jadilah saat itu kita menggunakan jasa calo untuk membuat KK dan 2 KTP, jadi kita masih tercatat di Semarang tapi juga kita bikin dokumen baru di Palangkaraya. Waktu itu KK nya bisa langsung jadi tapi tidak dengan KTP nya. Kita di berikan KTP sementara yang bisa kita gunakan sebelum KTP asli jadi. Kita pikir ah sudah bisa jadi KTP sementara paling KTP aslinya juga gampang. Apalagi kita udah bayar calo maratus rebu hehe
Baru saja 3 hari yang lalu saya ke Dukcapil, ceritanya mau mengambil KTP asli. Jadilah saya langsung ke loket “pengambilan ktp” sambil menunjukkan KTP sementara saya. Di tanya oleh pegawainya “ada tanda terima nya bu?” waduh tanda terima apa ya soalnya si calo nggak ada kasih tanda bukti apa2. Jadi saya bilang enggak ada mbak.
Terus di rujuk ke loket sebelah, di cek dulu katanya, sudah jadi atau belum. Ohh okelah saya geser ke sebelah. Setelah di cek, ternyata tidak ada nama saya dan suami, lalu saya di tanya, sudah pernah poto atau belum bu? Saya jawab belum mbak.
Berarti ibu harus poto dulu bu, tapi besok saja ngantrinya karena sore ini nomor antrian nya sudah habis. 
Okelah jadi saya bilang ke suami, besok bareng2 ke Dukcapil kita poto tapi harus berangkat pagi jam 7 soalnya jam  9 pagi nomer antrian sudah habis terus baru buka loket lagi jam 13.00 siang. Setiap hari hanya di batasi 20 orang untuk poto rekam.  
Jadilah, keesokan harinya kami pergi bersama ke Dukcapil untuk rekam poto. Sampai di sana jam 7.30 dan di panggil sekitar jam 9. Setelah itu saya bertanya kapan bisa di ambil KTP nya, pegawai nya bilang 3 hari kemudian ke sini lagi untuk di cek, apakah rekam potonya berhasil atau gagal.
Setelah 3 hari kemudian kita ke Dukcapil lagi, langsung ke loket pengecekan sambil menyerahkan copy KK kemudian nunggu di panggil.
Saat nama suami saya di panggil, suami saya maju dan di beritahu bahwa rekam poto nya berhasil tapi harus bertemu dengan Ibu S, salah seorang yang bertugas di bagian dalam dan di copy KK tersebut di tulis lah oleh pegawai tersebut “duplicate”.
Membaca tulisan itu [duplicate], dan di haruskan bertemu dengan seseorang [atasan]  di bagian dalam membuat kami bertanya-tanya.  Pasti something wrong lah.  
Setelah antri sebentar, kami kemudian di suruh masuk menemui Ibu S. Kemudian di jelaskan bahwa duplicate itu berarti kami sudah punya KTP-el di tempat asal dan kemudian rekam poto lagi di sini, alias dobel. Padahal itu tidak boleh. Setiap penduduk hanya boleh memiliki 1 KTP saja. Jadi KK dan 2KTP sementara dari si calo kemaren itu otomatis batal demi hukum karena kita tidak bisa mempunyai 2 NIK.
Satu-satunya cara adalah cabut berkas di Dukcapil Semarang untuk kemudian mendaftar/laporan ke Dukcapil Palangkaraya. KTP domisili lama kemungkinan besar akan di tarik di ganti dengan KTP domisili baru. NIK tidak berubah, hanya tempat tinggal/domisili menyesuaikan.
Menurut ibu S, cabut berkas itu penting juga untuk sensus/penghitungan jumlah penduduk, karena di takutkan karena ada beberapa KTP tapi orangnya sama akan berdampak ke jumlah penduduk yang banyak tapi faktanya tidak. Maksudnya tidak kesesuaian jumlah antara kenyataan penduduk dan KTP-nya.
Masuk akal sih penjelasan Ibu S. Bahkan Ibu S bilang kapan hari ada istri wakapolsek juga kejadiannya seperti kami, ogah cabut berkas tapi mau bikin dokumen baru lagi. Sudah nyuruh bawahannya, tidak bisa jadi karena duplikasi, pakai marah-marah lagi kata Ibu Sri. Padahal sebagai perangkat negara harusnya lebih tahu dong daripada masyarakat awam, begitu kata beliau.
Karena memang hanya bisa dengan cabut berkas, kami hanya berharap saudara kami di Semarang mau membantu repotnya kami. 
Demikian saudara-saudara, jaman sekarang ini terutama di era pemerintahan Pak Jokowi jangan percaya calo deh. Muka suami saya sampai kayak kepiting rebus kalo inget maratus rebu nya, lha di omongin sama istri gak percaya malah percaya calo sih ya..
Walaupun di Dukcapil terus terang saya lihat beberapa orang yang sama hilir dan sepertinya bukan salah satu karyawan….. dan tebakan anda benar, masih ada calo di antara kita.
Thanks for reading…
   
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s