{Sharing} Curhat :: Sulitnya mengajarkan tanggung jawab ::


Oke, background peristiwa nya seperti ini, toko kami ini berbatasan langsung dengan sekolah swasta di jtilik riwut. Benar2 berbatasan langsung dengan tembok saja, antara halaman sekolah itu dengan lorong pintu samping yang nota bene tidak tertutup, kalau orang jawa bilang ‘lengkong’ bukan lekong.
Kejadiannya kemaren siang sekitaran jam 9 atau 10 , waktu itu saya sedang memasak dan suami lagi di depan toko. Terdengar suara pletak pletok lemparan batu di selingi tawa anak2 kecil. Banyak banget pecahan2 batako dan gumpalan tanah melayang dari halaman sebelah [sekolah]. Saya dan suami saling berpandangan melongo karena lemparan2 itu tidak berhenti hampir selama 15 menit. Lengkong kami jadi kotor semua kena batako dan tanah, jadi jengkel juga. Karena anak kami pernah bersekolah di sekolah ini, jadi kami punya nomer telepon sekolah ini dan berupaya untuk menelepon, maksudnya untuk memberitahu bahwa ada “penyerangan” hehe. Kami telpon dan di angkat seorang guru sebut saja Bu A, saya bilang dengan muka agak jutek gitu : “Bu, ini ada anak2 yang melempari toko saya dengan batu, minta tolong dong di beritahu anak2 nya karena saya sangat terganggu ini”  dan Bu A bilang, “Bu ini  SD bukan TK telpon ke TK nya saja langsung”. Okeh saya bilang saya minta no telponnya dan beliau tidak tahu, kemudian saya tutup. Karena pelemparan nya belum selesai, saya telpon lagi ke nomor tadi dan di terima guru lain sebut saja Bu B, ibu guru ini malah lebih ekstrim, beliau bilang, “langsung saja datang ke TK nya bu”.
Jadilah saya langsung ganti pakaian dan menuju ke sekolah, saya lihat keadan nya sudah agak sepi, kantor TK  nya juga sepi jadi saya langsung masuk. Di dalam ada 2 anak kecil [mungkin TK A] yang kemudian memberitahu ke dalam kalau ada tamu.
Salah satu guru kemudian keluar, masih agak muda, dan langsung saja saya bilang : “Bu, saya tinggal di sebelah sambil tangan saya menunjuk ke toko, dan tadi ada yang melempari toko saya dengan batu”. Ibu guru muda ini kaget dan ada lagi guru yang lebih tua, sebut saja Bu C yang kemudian bilang, “ahh mana mungkin ada yang lempar2 Bu, mungkin anak SD karena biasanya mereka juga main2 di halaman TK sini”. Tipikal orang tua yang defense dan tidak mau menerima saran/masukan dari orang yang lebih muda [menurut aku begitu].
Wakk,, bagaimana ya cara berpikir ibu ini, belum melihat fakta2 langsung menembak tidak mungkin. Membuat saya tambah jengkel saja, dengan agak judes saya bilang lagi, “wahhh saya juga nggak tahu ya Bu, yang lempar itu anak TK atau anak SD, faktanya toko saya kotor semua. Kalo nggak percaya di lihat saja ke toko”, saya bilang begitu.
Kemudian Bu C dengan wajah tidak enak di pandang menanyai anak2 kecil TK A tadi, “ kamu melempar batu ya?” tanyanya sambil menunjuk nunjuk. Omaigat, cara bertanya apa ini, pikirku terutama bertanya kepada anak kecil. Dan tentu saja mereka cuma bisa menggeleng-geleng gak mudeng. Kemudian Bu C bilang kepada saya “enggak ada yang lempar2 tuh Bu “ dalam hati saya berkata ya iyalah wong caramu bertanya seperti itu.
Dengan enteng saya juga bilang ke Bu C, “lha terus siapa dong yang lempar2 karena arahnya memang dari sini dan saya juga dengar suara anak2 “
Kemudian Bu C   ini seperti mencari-cari seseorang dan voillllaaa…..ada yang bersembunyi di pepohonan, 3 anak yang lebih besar dari anak TK A tadi. Mereka kemudian di panggil Bu C dan salah satunya sudah ada yang nangis. Nah tuh, bener kan, pikir ku…
Dengan gaya dan cara bertanya yang sama, Bu C menanyai ke 3 anak tersebut dan tentu saja dengan model pertanyaan seperti itu mana ada yang mengaku. Karena tidak ada yang mengaku, pertanyaan di ganti Bu C dengan pertanyaan lain yang tidak kalah menggelikan [ bagi ku].
Pertanyaan yang pertama tadi : “ Kamu melempari batu ya?”
=== Di ganti dengan =====
Pertanyaan kedua : “ Kalau ada yang mengaku, nanti ada hadiah dari oom yang punya toko”            
What’ssss, apa maksud nya ini [ saya jadi tambah bingung dengan pertanyaan Bu C] apalagi anak2 itu.  Dan tentu saja mereka masih menggeleng2 mungkin tidak tahu apa yang guru mereka ini tanyakan…
Kemudian pertanyaan di ganti lagi : “ Apakah tadi kamu bermain ayunan “ ? dan  ketiga anak itu mengangguk. Kemudian Bu C mengajak anak2 itu ke ayunan yang lumayan jauh dengan tempat saya berdiri dan persis di tembok pembatas kita. Saya juga tidak tahu dan tidak dengar mereka ngomong apa. Bu guru muda di sebelah saya bilang “Memang 3 anak itu nakal Bu, dan belum di jemput jadi kita ini nungguin mereka di jemput. Tadi saya sih di luar Bu, baru saja saya masuk ambil minum. Mungkin mereka bosan karena nunggu lama belum di jemput.”
Saya bilang “ yah namanya juga anak2 Bu tapi lha mbok kalau mainan yan jangan mainan batu, udah gitu bikin kotor pekarangan orang lagi, pokok nya saya tidak mau membersihkan batu2 itu, saya minta di bersihkan dari sini, lebih baik lagi di bersihkan oleh anak2 itu biar mereka bisa di ajarkan bertanggung jawab “ saya bilang panjang lebar.
Belum sempat menjawab, si Bu C datang lagi dengan 3 anak tadi, 2 anak nangis dan yang 1 pentelang pentelang bloon, omaigattt.
Sambil berteriak-teriak lantang Bu C bilang, “ Ayo minta maaf, minta maaf sama ibu ini, blaaa…bla….bla…..”
Anak pertama sudah di jemput dan sudah mengikuti ayahnya mau pulang, di cegah Bu C di suruhlah lagi si anak minta maaf. Dengan air mata berlinang, mungkin karena takut, anak ini berkata lirih hampir tak terdengar “ Maaf… dan di sambung cerocosan Bu C yang malah ngomong terus di telinga saya.
Kepada satu per satu anak itu saya bilang perkataan yang hampir sama, “ Jangan bermain batu ya, apalagi di lempar2 nanti kalau kena kepala dan kepala saya berdarah bagaimana ?” 
Yeah saya tahu perkataan saya juga konyol, tapi paling tidak guru2 itu dan orang tua anak2 itu ikut mendengar juga.
Kemudian 2 dari anak2 tersebut pulang dan saya bilang ke ibu guru muda, “tolong ya bu nanti saya minta di bersihkan tempat saya” dan bu guru muda meng-iyakan.
Padahal sejujurnya saya ingin melihat guru-guru ini meng-handle persoalan ini dengan bijaksana. Jangan hanya sekedar bertanya dan memarahi anak2 tapi sebaiknya juga kan di ajari untuk bertanggung jawab. Di sisi ini, pertanggung jawaban pelaku sama sekali tidak tersentuh. Padahal alangkah baiknya mengajari anak2 terutama anak lelaki untuk belajar bertanggung jawab selagi mereka kecil. Bukan untuk saya kok, tapi untuk pembentukan karakter mereka juga pada akhirnya.
Pada akhirnya ada 3 guru yang datang ke toko mau bersih2 dan juga bilang “Maaf ya bu, mungkin tadi anak2 tadi bosen nunggu karena lama belum di jemput, nanti saya akan bilang ke orang tuanya [secercah harapan saya supaya bu guru ini bilang, bilang ke orang tuanya supaya anaknya di beritahu atau bagaimana] ternyata harapan saya tinggal harapan, ibu ini meneruskan “ supaya jemput anaknya tepat waktu”… omaigatttt, bukannn ituuuuuu
Setelah kejadian ini, sisa hari kemaren saya hanya bisa nggrundel dengan suami dan kemudian anak lanang saya setelah pulang sekolah. Dan 2 lelaki itu pun dengan sabar mendengarkan grundelan dan omongan saya yang ngalor ngidul tidak karuan gara2 kasih tak sampai
Ahhhh, mau di bawa ke mana generasi muda ini kalau guru2 nya tidak mengajarkan tanggung jawab [ maaf, masih nggrundel]….     
Anyway, thanks for reading ya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s